Hei kau, amatir
Pujangga gelandangan
Mengapa kau menulis di sudut-sudut kota
Memaksa tembok berbicara untukmu
Bahasa Malaikat
Ketika jiwa merenung
Dan pikiran tidak berbentuk
Hati mencoba merangkai puisi
Namun pilu menelan semua kata
Menguburnya jauh ke dalam
Tubuh yang terdiam kaku
Ketika gelap begitu mencekam
Cahaya tak mampu menembus kabut
Sepasang kaki tak sanggup lagi tegar
Ditopang harapan tipis dan ringkih
Karena keberanian memilih menyingkir
Membiarkan hidup membeku sendiri
Graffiti #1
Kalau boleh aku bertanya
Padamu tangan seniman
Mengapa pinggiran ini tempatmu berkarya
Apa yang memikatmu sehingga bernafsu
Meninggalkan namamu di tembok kelabu
Dan jalan berdebu
Lanjutkan membaca “Graffiti #1”
