Hei kau, amatir
Pujangga gelandangan
Mengapa kau menulis di sudut-sudut kota
Memaksa tembok berbicara untukmu
Kau membaca puisimu
di kereta penumpang
Kau membangun namamu
di antara yang terbuang
Kau membuat syairmu
menentang penguasa
Kau menggubah lagu
menantang dunia
Pemuda, dari mana api itu
Aku melihatnya berkobar
menyala dalam matamu
Aku mencium jiwa yang lapar
di balik angkuh sikapmu
Bergabung saja dengan mereka
para seniman panggung
Bukankah lebih mudah
hidup seperti sejuta orang lain
Kau tahu, aku bisa mengenali karyamu
dari jejak yang kau tinggalkan jelas
Aku temukan tanda tangan
Namamu
Sungguh, semuanya tertanda jelas
Namamu
Jadi, jika boleh aku menduga
Graffiti adalah sebuah sandi
Caramu menggambar hati
Sebuah potret diri
Agar kau diingat dunia
—
Jakarta-Depok

Tinggalkan komentar