Di Tepi Dermaga

Aku:
Dua orang muda di ujung jembatan
Pemuda dan seorang gadis
Mata mereka canggung
Peluk mereka tanggung
Wajah mereka emas dan lembayung
Waktu membeku di sekitar mereka

Sesekali angin menyela kesunyian
Membawa bau matahari dan garam
Dengan kekuatannya yang terakhir
Sebelum akhirnya menyerah kepada senja
Angin itu mengembuskan kata-kata
Yang terucap dalam sunyi
Aku menyimaknya
Aku tuliskan untukmu

Pemuda:
Hari ini kelak akan kita kenang
Dengan suatu cara yang berbeda
Tapi panas dan bau garam ini akan tetap sama
Selama matahari belum pudar
Dan lautan tidak menjadi kering
Selama pelaut masih berbagi cerita
tentang keajaiban samudera
Selama mereka masih mendengar senandung
yang dinyanyikan laut di kala senja

Kalau aku menyesal
Itu karena aku tak bersahabat dengan waktu
Sekarang kita bermandi lembayung
Di tepi dermaga ini

Tidak, aku tidak akan di sini
Tidak ketika kamu menjejak daratan lagi
Aku tidak akan menantimu kembali
Aku juga tak akan menjadi bajak laut
Mengejarmu ke lautan lepas

Gadis:
Mungkin aku akan menulis ini di dalam diariku
Mungkin juga aku akan melupakannya
Mungkin suatu hari aku kembali
Mungkin juga tidak
Entahlah, tak mungkin aku mendahului takdir

Tanah ini tempat aku lahir
Hidupku ada sepenggal di sini
Sepenggal yang sangat indah
Kamu tidak akan jadi asing untukku
Tidak selama kamu masih tetap sama
Pemberani yang menantang matahari
Dengan dongeng tentang 1001 malam
Aku tahu itu bukan dongeng

Jadi sayang
Lupakan semua klise yang tak penting
Jangan kamu ucapkan kalimat pecundang
Dan ironi tentang persahabatan
Kita tahu esok tak akan pernah sama
Karena ketika matahari menutup hari
Ia mematri dalam hati manusia
Suka dan luka yang kita kumpulkan
Sepanjang hari yang telah berlalu

Aku:
Gadis itu melambaikan perpisahan
Camar melepasnya
Tampak lepas dan bahagia melangkah
Ke jembatan yang ujungnya menjumpai lautan

Hari itu, aku tak membayangkan
Gadis itu akan kembali
Aku hanya menyaksikan
Si pemuda tinggal sesaat di sana
Melambai kepada senja, lalu pergi
Mencari negeri 1001 malam

Ia menepati kata-katanya
Ia tak di sana ketika gadis itu kembali
Empat hari kemudian


2014

Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑