Bolehkah aku melihat senyummu?
Katakan padaku kau tak berpura-pura
Aku benci matahari
Ia menciptakan ilusi
Dunia yang ditampilkan semu
Terangnya tak mampu meredam
Malam yang mencekam
Aku ada di tengah masyarakat topeng
Pahlawan bertopeng
Perampok bertopeng
Polisi bertopeng
Badut bertopeng
Dokter bertopeng
Tapi kau berbeda
Berbeda dari mereka
Senyummu tulus
Seperti udara murni
Memenuhi rongga nafas
Mengembalikan kekuatan
yang lama hilang
…
Aku pernah terluka
Dalam, tersayat kecewa
Codet di dada kiriku
Kenang-kenangan perang
Bukan tusukan musuh
Tapi belati sahabatku
Dunia ada di ambang kiamat
Tidak kau lihat retak di langit
Merambat dan menjalar
Kau rasakan bumi gemetar
Sendi-sendinya goyah
Matahari melangkah angkuh
Lalu lenyap ditelan gelap
…
Kau secercah cahaya
Terbit di ujung lembah
Kau seperti angin semilir
Lembut membelai, membujuk
bunga bernyanyi
dan rumput menari
Terbuai aku lupa
Gelapnya tempatku berada
Bagiku kau bagai khayalan
Personifikasi dari gagasan
Yang dulu aku yakini
Kau ada di hadapanku
Aku tak bisa menebak hatimu
Bolehkah aku melihat senyummu?
Katakan padaku ini nyata
—
2014

Tinggalkan komentar