Bahasa Malaikat

Ketika jiwa merenung
Dan pikiran tidak berbentuk
Hati mencoba merangkai puisi
Namun pilu menelan semua kata
Menguburnya jauh ke dalam
Tubuh yang terdiam kaku

Ketika gelap begitu mencekam
Cahaya tak mampu menembus kabut
Sepasang kaki tak sanggup lagi tegar
Ditopang harapan tipis dan ringkih
Karena keberanian memilih menyingkir
Membiarkan hidup membeku sendiri

Lanjutkan membaca “Bahasa Malaikat”

Di Tepi Dermaga

Aku:
Dua orang muda di ujung jembatan
Pemuda dan seorang gadis
Mata mereka canggung
Peluk mereka tanggung
Wajah mereka emas dan lembayung
Waktu membeku di sekitar mereka

Sesekali angin menyela kesunyian
Membawa bau matahari dan garam
Dengan kekuatannya yang terakhir
Sebelum akhirnya menyerah kepada senja
Angin itu mengembuskan kata-kata
Yang terucap dalam sunyi
Aku menyimaknya
Aku tuliskan untukmu

Lanjutkan membaca “Di Tepi Dermaga”

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑